Talavia

Perjalanan Sejarah Stevia

Sejarah Stevia: Dari Penemuan hingga Penggunaan Modern

Table of Contents

Stevia, tanaman yang berasal dari keluarga Asteraceae, konsumsi sejarah Stevia telah dimulai sebagai pemanis alami yang rendah kalori dan memiliki berbagai manfaat kesehatan. Namun, meskipun kini banyak dikenal sebagai alternatif gula yang sehat, sejarah stevia sangat panjang dan penuh dengan perjalanan yang menarik.

Sejarah Stevia: Asal-usul Stevia

Stevia (Stevia rebaudiana) berasal dari daerah Paraguay dan Brasil di Amerika Selatan. Tanaman ini telah digunakan oleh suku Guaraní, masyarakat pribumi di Paraguay, selama berabad-abad kurang lebih sekitar 1.500 tahun. Mereka menamai tanaman ini ka’a he’ê, yang berarti “rumput manis”. Suku Guaraní memanfaatkan daun stevia untuk memberikan rasa manis pada teh dan makanan mereka, serta digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati penyakit seperti gangguan pencernaan, hipertensi, dan diabetes. 

Sejarah Stevia: Penemuan oleh Ilmuwan Barat

Moisés Santiago Bertoni
Sumber: mosebertoni.ch dari Wikipedia

Meskipun stevia telah digunakan oleh masyarakat pribumi jauh sebelum dikenali oleh dunia Barat, tanaman ini baru mulai mendapatkan perhatian internasional pada abad ke-19. Pada tahun 1899, sejarah stevia dimulai dengan seorang ahli botani asal Swiss, Moisés Santiago Bertoni, melakukan penelitian mengenai tanaman ini di Paraguay dan berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan tanaman stevia lalu memberikan nama Eupatorium rebaudianumMoisés Santiago Bertoni adalah orang pertama yang mempelajari secara mendalam mengenai sifat-sifat stevia dan mengenalkannya ke dunia luar.

Pada awal abad ke-20, peneliti menemukan bahwa stevia mengandung senyawa manis yang disebut steviol glikosida, khususnya stevosida, yang memberikan rasa manis yang jauh lebih kuat daripada gula biasa. Hal ini menarik perhatian ilmuwan dan industri yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi potensi stevia sebagai pemanis alami.

Sejarah Stevia: Pengenalan ke Dunia Internasional

Pada tahun 1930-an, stevia mulai diperdagangkan di Jepang, yang kemudian menjadi salah satu negara pertama yang mempopulerkan penggunaan stevia sebagai pemanis pengganti gula. Pada awalnya, stevia digunakan dalam industri makanan dan minuman, terutama untuk produk-produk diet dan rendah kalori. Di Jepang, stevia bahkan mendapatkan pengakuan resmi sebagai pemanis yang aman dan alami.

Pada tahun 1970-an, stevia mulai diperkenalkan di negara-negara Barat, meskipun dengan berbagai tantangan regulasi. Di Amerika Serikat, stevia awalnya dilarang oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1991 karena kekhawatiran tentang keamanannya. Namun, pada 2008, FDA akhirnya mengesahkan penggunaan stevia yang telah diproses dan disaring, seperti ekstrak stevia dalam produk makanan dan minuman.

Sejarah Stevia: Perkembangan & Penggunaan Stevia

Ekstrak Stevia

Seiring berjalannya waktu, penggunaan stevia semakin berkembang. Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, meningkatnya kesadaran akan masalah kesehatan terkait dengan konsumsi gula berlebih, seperti obesitas dan diabetes, membuka jalan bagi stevia sebagai alternatif pemanis yang lebih sehat. Dengan rendahnya kalori dan sifat alami yang tidak meningkatkan kadar gula darah, stevia menjadi pilihan populer bagi mereka yang mencari pemanis alami tanpa efek samping dari gula.

Hari ini, stevia digunakan secara luas dalam berbagai produk, termasuk minuman manis, makanan diet, permen, dan produk-produk lainnya. Selain itu, stevia juga sering digunakan dalam suplemen dan produk kesehatan berkat manfaatnya yang diyakini dapat membantu mengatur kadar gula darah dan tekanan darah.

Sejarah Stevia: Penggunaan di Indonesia

Stevia Indonesia

Stevia juga baru mulai dikenal di Indonesia pada akhir abad ke-20, meskipun tanaman ini sebenarnya sudah ada di beberapa daerah tropis Indonesia sejak lama. Pada awalnya, stevia tidak begitu populer dan hanya dikenal di kalangan masyarakat tertentu yang sudah mengenal khasiatnya sebagai pemanis alami. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat dan dampak negatif konsumsi gula berlebih, stevia mulai mendapat perhatian lebih luas. 

Pada tahun 2012, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia akhirnya mengesahkan penggunaan stevia dalam produk makanan dan minuman setelah melalui berbagai penelitian untuk memastikan keamanannya. Pengesehan ini tertera pada Peraturan Kementrian Kesehatan RI No.33 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan. Hal ini membuka peluang bagi industri makanan dan minuman untuk memanfaatkan stevia sebagai pemanis alami yang lebih sehat. Sejak saat itu, stevia semakin diterima di Indonesia.

Kesimpulan

Infografis Sejarah Stevia

Sejarah stevia adalah perjalanan panjang dari tanaman yang digunakan oleh suku Guaraní di Paraguay hingga menjadi pemanis alami yang dikenal secara global. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan bahaya gula berlebih, stevia telah menemukan tempatnya dalam industri makanan dan kesehatan modern. Sebagai pemanis alami yang bebas kalori dan memiliki berbagai manfaat kesehatan, stevia menawarkan alternatif yang lebih sehat bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi gula tanpa mengorbankan rasa manis. Seiring berjalannya waktu, kita dapat mengharapkan lebih banyak penelitian dan inovasi terkait stevia, yang mungkin membuka jalan bagi penggunaan lebih luas dalam produk-produk makanan dan minuman di masa depan.

Scroll to Top